Friday, June 17, 2011

Aku Adanya

Jika aku besar jangan kerdilkan aku
Jika aku mungil jangan gembungkan
Hanya ijinkan menjadi aku apa adanya

Jika aku terpaksa jauh, rengkuhlah aku dengan doamu
Jika ku dekat denganmu, renggangkanlah sedikit peluk itu
Hanya ijinkan aku berada dimana hatiku menuju

Anak panah itu tidak mungkin lepas tanpa busur
Namun maknanya sirna ketika hanya berdampingan
Ia, sesungguhnya, bisa melesat dan menghebat
Sebesar kemampuan dan upayanya
Tapi ia mengharap restu dan doa
Dari Sang Busur, Bunda

Wednesday, May 25, 2011

Aku dan masakan (Sebuah Rahasia)

“Bi Lung kok resep masakan enaknya banyak?” Komentar ponakanku di sabtu sore.

Sampai saat ini aku masih terngiang komentarnya yang lugas itu, sebulan yang lalu. Sebelumnya dia menolak mengakui bahwa dia suka masakanku saat itu, nasi goreng. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan sedikit ‘ancaman’ bahwa aku akan menghabiskannya. Barulah ia menunjukkan kesukaannya dan menghabiskan nasi goreng itu setelah sebelumnya menghabiskan jamur goreng tepung.

Terus terang jarang aku mendapat pujian kalau dikaitkan dengan masakan. Hampir setiap orang yang mengenalku merasa yakin aku tidak bisa, bahkan tidak pernah, memasak. Well, itu tidak sepenuhnya salah karena aku memang jarang ke dapur. Tapi bila kondisi ‘memaksa’, toh aku bisa juga turun tangan ke dapur.

Ada dua aturan ketika seorang Nurul memasak, mudah dan tanpa takaran. Kiblatku dalam memasak adalah kemudahan memperoleh bahan-bahan, bumbu yang ringkas dan proses yang tidak terlalu berbelit. Jadi bukan masalah apakah itu masakan Jawa, Cina, Swedia, Korea, selama itu eatable , bisa dimakan, pasti pantas dicoba. Bumbu utama garam dan merica saja terkadang sudah cukup, seperti ketika membuat mashed potato, kentang tumbuk. Atau bolehlah ditambah bawang putih seperti ketika kita membuat sup ayam.

Nasi goreng itu bukan baru pertama kalinya kubuat. Tapi hasil masakannya memang lezat untuk kali ini. Ini adalah efek dari cara memasakku yang tanpa takaran. Aku bisa menjadi sangat impulsif ke dapur ketika membayangkan makanan tertentu. Dan terus terang mengingat-ingat berapa sendok takaran garam, gula itu sedikit menggangguku. Belum lagi untuk memastikan apakah itu sendok makan atau teh. Hmmm bagaimana kalau kita improvisasi saja ketika memasak, berkhayal menjadi Rachael Ray. Aji-aji ‘feeling’ sering digunakan padahal perasaan sering berubah-ubah. Ada kalanya aku menjadi sangat teliti dan bisa berkoordinasi dengan baik untuk menggerakkan tangan dan langsung menuang bumbu sewaktu memasak. Tapi di banyak kesempatan aku terlalu ceroboh dan tidak mau mencicipi sebelum mematikan kompor dan menuang ke tempat saji. Dengan kata lain, tidak ada revisi :d.

Aku menjadi terkenang satu kesempatan ketika masih belajar di Swedia. Waktu itu, aku sangat kangen mie goreng Jowo. Tanpa mencari resepnya, aku langsung mencobanya. Kubayangkan rasa mie goreng itu, pastilah menggunakan bumbu-bumbu dasar plus bumbu lain yang aku kurang tahu dan kecap. Di swedia kita bisa menemukan “Sambal Oelek” dengan mudah di supermarket. Sambal ini, sebagaimana sambal-sambal lain yang kita kenal, sudah memiliki cita rasa yang kuat. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan itu dan tambahan bawang putih, bombay, garam, merica dan kecap sebagai bumbu. Tanpa mencicipi, hanya dari ilmu perkiraan bahwa masakan sudah siap aku mematikan kompor. Di malam ketika aku memasak, aku berbagi dengan teman Swediaku.

“Aku tidak menyangka hasilnya akan seenak ini, padahal di awal terkesan berantakan”, Katanya.

Ketika keesokan harinya kubawa sebagai bekal makan siang, temanku memuji. Dan bahkan memintaku untuk memasakkan ulang mie Jowo itu ketika kami, mahasiswa Indonesia, berkumpul. Kali ini terus terang aku grogi, dan tidak percaya diri. Walhasil, tanganku memasukkan terlalu banyak garam dan yah begitulah masakan kita kali ini gagal. haha

Sunday, March 27, 2011

Akhir Pekan Waktunya Bermimpi

Hari ini dan kemarin, bolehlah aku bermimpi. Sebentar saja. Hanya beberapa beberapa jam saja dari dua hari itu, aku ingin bermimpi. Bukan. Bukan tidur yang aku bayangkan untuk kulakukan. Tapi sejenak melepaskan batasan-batasan rasionalitas yang mengungkung pewujudan miimpi. Dua hari ini saja, aku ingin melupakan kenyataan bahwa mimpi itu masih terlalu jauh untuk direngkuh. Terlalu abstrak untuk dicecap rasanya dan bahkan terlalu mustahil untuk sekedar dibayangkan.
Pagi hari, menemukan file lagu schiller feat Lang Lang (Time for dreams), adalah anugerah bagiku. Cobalah dengarkan lagunya yang ritmis mengalun. Setiap dentingan piano Lang-Lang seakan bisa memberi semangat jantungku untuk berdenyut, setiap alunannya memompa semangat untuk terus berusaha. Karena bahkan berusaha dan mempunyai gairah hidup itupun harta yang sangat berharga. Dan baru hari ini, aku menyadari bahwa akhir pekan adalah hari yang sangat kunikmati. Aku tidak perlu khawatir bahwa yang kulakukan akan sia-sia. Tidak memikirkan, bahwa orang lain mungkin menganggap aneh ide dan semangatku.
Sedikit orang berani bermimpi. Dan lebih sedikit lagi orang yang berani berusaha meraih mimpi. Apalagi untuk seorang wanita ‘timur’ yang sudah cukup umur untuk menikah. Tidak akan ada lagi yang memberimu semangat untuk “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Oughhhhh..huffff..lupakan itu! “Sekarang saatnya untuk berharap ada seseorang yang sudi melamarmu”. Sepertinya Cita-cita ibu Kartini baru terkabulkan sampai tahap dimana seorang perempuan hanya boleh bermimpi sampai usia tertentu. Pramudya dalam bukunya ‘Kartini’ mengatakan, dengan sinis, kemerdekaan yang diidamkan Kartini hanya dapat diperoleh ketika dia menjadi Janda.
Jadi ijinkan hanya di dua hari ini aku bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpiku. Hanya demi dua hari ini saja, aku akan dengan semangat melewati lima hari lainnya. Untuk dua hari ini, aku yakin suatu saat aku akan meraih yang kuinginkan. Dua hari ini...

Backsound: Schiller feat Lang Lang

Wednesday, March 02, 2011

Cinta Vs Lelang

Cinta dan pelelangan, apa hubungannya? Membaca buku ‘Sway’, belum menginspirasiku untuk menulis. Meski bagian pelelangan dan hubungannya dengan keputusan US untuk membantu Vietnam Selatan melawan komunisme dari utara cukup mengejutkanku. Hingga seorang kawan menceritakan kehidupan cintanya, ini memberiku ide, “Cinta juga seperti pelelangan”. Di pelelangan, ada kalanya kita beruntung mendapatkan barang berharga dengan harga murah di lain waktu kita rugi karena membayar mahal untuk benda yang kurang berharga.
Jadi begini, dalam buku itu diceritakan seorang dosen di Harvard Business School mengadakan ‘Lelang $20’ untuk kelas negosiasi. Peraturannya hanya dua, kenaikan penawaran hanya boleh selisih $1 satu dengan yang lain dan penawar tertinggi kedua harus membayar sejumlah tawarannya meskipun kalah.
Seperti yang telah diperkirakan oleh dosen, tahap pertama berlangsung sangat cepat. Setiap mahasiswa membayangkan mendapatkan sedikit keuntungan dari $20. Ritme sedikit melambat ketika penawaran mencapai $12-$16, tahap kedua. Sebagian besar sudah menebak ke arah mana lelang ini. $20 menjadi kurang bernilai. Hingga akhirnya hanya tersisa dua penawar tertinggi. Penawar kedua ($16) bisa memilih untuk berhenti dan mengakui kekalahannya atau menaikkan tawaran menjadi $18.
“Sudahlah, menyerah saja. Mumpung kekalahanmu masih sedikit”, Mungkin itu yang dikatakan teman-temannya yang lain sambil tersenyum melihat pertarungan ini.
Tapi di tahap ketiga ini, kedua penawar itu sedikit sulit menerima kekalahan dan menjadi lebih berkomitmen untuk memenangkan lelang. Penasaran. “Aku masih bisa menang”. Dan benar, lelang ini terus berlangsung. Semakin dalam terperosok ke dalam lubang dan sulit melepaskan. Penawaranpun terus berlanjut, $50,.. $75 dan penawaran tertinggi mencapai $204. Seperti judul bukunya, ‘Sway’, kita terkadang berlaku tidak rasional. Dalam hal ini, sulit menerima kekalahan dan komitmen menghalangi untuk berpikir ‘waras’.
Kembali ke cerita teman saya. Bagaimana menghubungkannya? Di awal masa romantisme itu berkembang, itu adalah fase-fase euphoria. Sama seperti ketika para mahasiswa membayangkan memperoleh $20. Kata-kata sayang mudah diucap di sini. Janji-janji manis diobral murah. Perilaku menyakitkan dinihilkan. Semuanya indah.

Sunday, February 27, 2011

I am A Human (Writer) being

It is good to write some notes. You never know when you are going to need those. Well, yeah! Today i found it quite a thing.
October 8th 2010. Four months ago, more or less. I wrote this note.
“Ghost is for those who used to be a human being”, Someone said that in Ubud Writers and Readings festival 2010.
Let me tell you about the festival, first. It was really a pleasant to be a part of those writers and readers. What an atmosphere i would say. It didn’t really matter whether you are famous or not. Or whether you are involved actively or just enjoying the papers. It was fun. What real conversations’ lack is that we could not ask for the full attentions of our counterparts, listeners. This is not the case in writing. Furthermore, we do express our feelings and thoughts without any worry to be disturbed. No..no chance for that.
And the best part is I am a life, i am not yet a ghost. At least i got the confirmation from my friends in one of Detri Inn’s room. Yes, and they who said so are human being, i am sure. Hahaha but let me be straight on this.
I was a ghost (writer) before. I was busy to cover myself up and not to show my name on the papers i worked on. It was so tiring to be a ghost. I gave it in. Maybe, it because i still have a complete soul and body. Alhamdulillah. Thanks God for this.