Tuesday, January 20, 2009

NAMAKU LINDA


SIANG ini, 11.00 am, aku melakukan perjalanan rutinku ke perpustakaan pusat, Universitetbibliotek. Hujan salju masih berlanjut sejak semalam. Melewati daerah pedagoggränd menuju daerah hutan kecil. Kulihat di tiang lampu itu masih tersandar sepeda oranye. Kuncinya erat memeluk sepeda itu dengan tiang lampu.
“Apa kabar Linda, ya?”, Pikirku.
Linda adalah seorang yang kukenal semalam, pemilik sepeda itu. Kita belum sempat banyak bercakap. Aku hanya tahu namanya Linda.

PERUTKU mulai mengeluarkan bunyi-bunyi. Tampilan yang muncul dari ‘Scirus’ dan ‘Cochrane’ tidak cukup menggoda pikiranku. Kuputuskan cukup untuk Hari Senin ini. Kuedarkan pandangan pada 47 meja yang lain. Kosong. Sendiri di ruang seluas 12x10 meter.
Beberapa buku kubawa menuju ke lokerku. Putar ke kanan tiga kali. Putaran keempat berhenti di nomor 15. Putar ke kiri angka 25. Terakhir putar ke kanan 17. ‘CLICK’. Kuhembuskan napas sedikit lebih keras. Ini kali pertama aku menggunakan lokerku. Gunnis Karlsson baru memberitahukan padaku pukul 10.10 am.
Selanjutnya ritual sebelum keluarpun dimulai. Melilitkan syal merah di leherku. Mengenakan jaket merah, pinjaman dari Mba Ari. Meletakkan tas ransel di punggungku dan terakhir sepasang sarung tangan.
Di ruang resepsionis hanya kulihat seorang petugas saja. Lelaki berambut sedikit gondrong tapi rapi dan gaya. Mengenakan sweater hitam.
“Hej san!!”,katanya pada seorang mahasiswa yang menunggu di meja.
Melewati pintu detektor, akupun berjalan menuju pintu keluar. Pelan memencet tombol pembuka pintu otomatis. Sebenarnya alat ini ditujukan untuk mereka yang berkursi roda. Tapi sering juga aku menggunakannya. Di Luar ternyata salju turun. Berlatarkan langit yang gelap, kapas-kapas seperti berjatuhan dari langit.
Sepuluh menit berjalan. Sesekali saja kutegakkan kepalaku. Aku sudah melewati daerah hutan kecil. Lima meter di depanku ada sebuah terowongan. Di baliknya adalah area dimana aku tinggal.
“Sebentar lagi sampai Alidhem Centrum”, kataku dalam hati.
Sepintas kulihat seseorang berjaket hijau berlawanan arah menuju terowongan. Berjalan dengan sepedanya. Beberapa tas bergelantungan di sisi kanan dan kiri stang sepeda.
Kutundukkan lagi kepalaku. Satu meter terpaut darinya tiba-tiba dia jatuh terkapar. Aku berjalan mendekat.
“Can i help you?”.
Kusingkirkan sepeda yang jatuh menimpanya. Barang belanjaannya jatuh berhamburan. Dua buah tas kertas ukuran besar berisi makanan dan peralatan dapur. Keranjangnya juga terisi penuh. Kualihkan pandangan padanya. Tak ada jawaban. Dia masih terkapar.
“Are you OK?” Kuraba bahunya. Kupalingkan mukanya yang masih mencium tanah. Tanpa respon dan ekspresi.
O..o..hmmm...
Reflek kucari denyut nadi di lehernya. Dan kuletakkan jari diujung hidungnya. Aman. Masih ada denyut nadi dan nafas. Seorang wanita berjaket hitam berjalan mendekat. Melihat kondisi ini, ia meraih teleponnya,” We should call ambulance”.
Please do that.
Terus terang aku tidak terlatih untuk kondisi darurat. Aku hanya tahu dalam kondisi ini aku harus memastikan ia dalam kondisi yang aman. Tapi ia jatuh dalam kondisi yang benar2 bagus. Di tepi dan di bawah terowongan. Dan ia mengenakan helm. Minimal bisa kupastikan tidak ada cedera kepala yg serius.
Posisi tengkurap kurasa kurang baik untuk nafasnya. Jadi kubantu ia untuk miring. Tiba-tiba ia kejang. Empat ekstrimitasnya bergerak tak terkendali. Clonic state. Kondisi dimana otot berkontraksi dan relaks dengan sangat cepat dan tak terkendali. Badannya bergunjang cepat.
Wanita berjaket itu masih menelpon ambulance. Kuteriakkan kondisi pasien agar dia laporkan pada petugas. Nafasnya sempat hilang sesaat. Ada pergerakan bola mata. Tidak ada air liur yang keluar. Satu wanita lain memarkirkan sepedanya ikut membantu.
Kurasa komunikasi berbahasa Inggris kurang efektif dalam kondisi seperti ini. Ia membantu mengkomunikasikan keadaan pasien kepada wanita berjaket hitam. Petugas juga memandu apa saja yang harus dilakukan.
Kejang itu berhenti sekitar 2 menit. Setelahnya tidak terlalu jelas apakah ada fase tonic. Karena seluruh tubuhnya tertutup. Dan kita tidak mau ambil resiko membuka jaketnya. Suhu masih minus 4 kurasa. Tapi yang jelas ia masih tidak sadar dan tidak ada reaksi terhadap stimulus apapun. Nadinya sedikit lebih cepat.
“Arggghhh..Awhhhh”, Gumamnya setelah beberapa menit.
Koordinasi ototnya masih belum sempurna. Tapi pelan, kesadarannya mulai pulih.
“Vad Heter du,” Tanya wanita disampingku.
“Linda”.
Sekitar lima menit ambulans datang. Seorang pria yang melewati terowongan itu membantu memberi arahan pada ambulans. Dua petugas keluar. Satu membawa brankar dan satu lagi memeriksa kondisi Linda. Dialog terjadi antara petugas dan wanita berjaket hitam. Linda sudah dalam kondisi yang aman.
Dialog beralih pada apa yang harus dilakukan pada sepeda dan barang bawaannya. Akhirnya petugas itu memutuskan untuk membawa semua barang Linda ke dalam ambulans. Kemudian meninggalkan sepeda. Tidak aman meninggalkan sepeda begitu saja. Untung Linda cukup sadar untuk mengatakan bahwa dia membawa kunci pengaman dan menunjukkan kuncinya.
Setelah peristiwa itu aku sibuk bertanya,”benarkah yang kulakukan?”
Berikut hal-hal yang bisa dilakukan ketika terjadi kejang:
1. Amankan pasien dan cegah terjadinya injuri. Posisikan pasien dalam kondisi terbaring, miring (apalagi jika pasien muntah untuk mencegah terhirup ke paru-paru). Jauhkan dari benda-benda yang berbahaya/ tajam di sekitarnya.
2. Beri alas di kepalanya. Dalam kasus Linda, helmnya cukup untuk mencegah benturan selama kejang berlangsung
3. Monitor tanda-tanda vital (terutama nadi, napas), temani pasien sampai ada petugas yang bisa mengambil alih
4. Jangan beri/meletakkan apapun diantara gigi pasien (termasuk jari) ketika kejang terjadi
Aku sedikit lega, setidaknya apa yang kulakukan bisa dipertanggungjawabkan. Lalu apa penyebab yang memungkinkan terjadinya kejang? Untuk menentukan alasan pastinya perlu pemeriksaan lebih lanjut. Namun kondisi berikut adalah beberapa alasan terjadinya kejang: epilepsi, penggunaan alkohol, drug abuse, demam, cedera kepala, meningitis, kadar gula darah rendah (hypoglicemia). Kira-kira penyebab apa ya yg cocok?

Referensi:
1. Marx JA, Hockberger RS, Walls RM, eds. Rosen’s Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice. 5th ed. St. Louis, Mo: Mosby; 2002
2. Univeristy of Maryland Medical Centre. Available :http://www.umm.edu/ency/article/000021.htm

Sunday, January 11, 2009

Tuhan, Andai Boleh Kumemilih

Pernah terbayang kalau aku sekamar dengan seorang bajak laut Somalia? Ini bukan khayalan bukan pula kenyataan. Hanya sebuah dugaan, prasangka yang sempat merusak liburannya. Sewaktu kembali ke Umea, Sweden dari perjalanannya ke Jerman.
Sore hari, 10 Januari, pertama kali kulihat dia di tahun 2009. Hampir dua minggu tak bertemu membuat kami banyak bercerita. Mulutnya tak henti bicara selama 20 menit. Tangannya sibuk bergerak, dramatisasi ceritanya. Matanya lincah melirik ke kanan ke kiri sekedar menunjukkan padaku bagaimana orang jerman memperlakukannya.
“ They made funny face and starred at me, like this”, Kata Agnes Nanyonjo (29 tahun) sambil menyeringai dan memainkan bola matanya.
Aku pernah melihat banyak tatapan seperti itu ketika kita berdua pergi ke Riga, Latvia. Benar- benar bisa membayangkan peristiwa yang dia alami di bus Dresden-Munich. Kali ini bukan hanya sekedar tatapan dan mencoba menyentuhnya. Interogasi singkat sempat terjadi. Dua petugas tiba-tiba masuk dan mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. Kewarganegaraan, apa yang dilakukannya di Jerman adalah isu sentralnya. Padahal ia hanyalah seorang Uganda yang menjadi mahasiswa di Swedia dan sedang mengunjungi temannya di Negara NAZI itu.
Pengalaman selanjutnya adalah di Bandara Berlin/ Berlin Flughäfen. Petugasnya begitu menyebalkan hingga membutuhkan waktu check in yang lama. Data seperti bukti reservasi, pasport bahkan sampai pertanyaan tidak penting,”any present for me?” cukup membuatnya sebal.
Tiba di Bandara Västeras, Swedia ia ingin segera mengejar Flygbussen, bus airport. Dua polisi dari dua arah yang berbeda bergerak ke arahnya. Merasa tidak punya masalah, ia masih melangkah terus hingga tangan petugas itu memberhentikannya.
“No,..not again”, Keluhnya.
Dan petugas itupun memberikan pertanyaan - pertanyaan serupa. Dan memintanya untuk menunjukkan bukti reservasi. Pertanyaan yang sangat tidak relevan apalagi setelah dia sampai tujuan.
“Look Nurul!! This simple traditional scarf thing is the matter”, Intonasinya sedikit naik saat mengatakan itu.
Itu adalah hasil obrolannya dengan beberapa penumpang lain. Kulitnya yang hitam, ditambah scraf bermotif Afrika yang melilit di lehernya membuat orang berpikir bahwa dia adalah imigran Somalia. Apa salahnya menggunakan syal tradisional? Dia begitu yakin kalau yang menggunakan itu adalah orang kulit putih atau Asia, perlakuan serupa tak akan terjadi.
Pengalamannya mengingatkanku pada seorang teman yang sedang memotret gedung di Jerman.
“Itu bukan mesjid yang bisa kau foto”, Teriak seorang pria padanya dalam Bahasa Jerman.
Sesuatu yang tak dia mengerti sampai temannya menjelaskan padanya. Hanya karena dia berjilbab. Ada sepotong kain yang menutupi rambutnya. Itu memang simbol sebuah agama. Begitu sulitkah menerima orang lain apa adanya, termasuk agamanya? Bisakah menganggap itu sebagai sebuah mode?
Tidak ada yang bisa dipersalahkan. Temanku tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai orang kulit hitam. Temanku yang lain tidak memilih untuk dibesarkan dalam lingkungan muslim. Ia terbiasa dengan nilai-nilai itu meski ia punya hak untuk menentukan agamanya sendiri di kemudian hari.
Tapi setiap orang memiliki mekanisme pertahanannya sendiri. Melindungi dirinya, keluarganya, keyakinannya dari sesuatu yang ia anggap berbahaya. Mungkin tidak benar-benar berbahaya, hanya sesuatu yang asing, identik dengan ketidaktahuan, bagi mereka. Kesadaran akan adanya ‘ancaman’ melahirkan prasangka.
Hal inilah yang mengawali stereotype. Misal, laki-laki itu maskulin, dan itu berarti keterlibatan ‘otot’ diperbolehkan. Dengan itu, orang mempunyai alasan untuk memperlakukan orang lain seperti yang mereka sangka. Lahirlah apa yang orang sebut Sexism, Racism, Chauvinism. Istilah yang serupa tapi merujuk pada tataran yang berbeda. Bentuk ekstrem dari eksistensi diri dan kelompok dimana dia berada.
Seorang Osama Bin Laden mungkin cukup untuk membuat sebagian bule-bule itu berpikir semua muslim adalah teroris. Karena kebanyakan negara Afrika adalah negara miskin, maka kita meremehkan keberadaan mereka. Hanya karena bajak laut Somali dan kekacauannya membuat polisi-polisi itu berpikir akan banyak pencari suaka yang datang.
Terakhir, Hanya karena HAMAS dan perlawanan-perlawanan ‘kecilnya’ cukup memberikan alasan bagi Israel untuk menyerang ‘besar-besaran’? Lebih dari 800 korban meninggal dalam waktu 2 minggu.Bocah-bocah itu tidak memilih untuk dilahirkan sebagai warga Palestina. Jadi perlakukanlah mereka dengan penuh martabat.
Dan untuk martabat dan kemanusiaan itupulalah demonstrasi dan penggalangan dana marak dilakukan di seluruh dunia. Sabtu, 10 Januari 2009 di Stockholm setidaknya 8000 demonstran hadir di Sergel’s Torg. Umea juga melakukan hal yang serupa meski dengan kuantitas yang lebih kecil. Ribuan orang juga berkumpul di Taman Queen, Brisbane menunjukkan solidaritas terhadap saudara yang sedang terdzalimi.

Saturday, January 03, 2009

My resolution

“I am Leaving the past as it is and living today for what it is”, Jeritku dalam hati. Di atasku fireworks berbagai warna dan bentuk bermain-main indah. Satu, dua, tiga membentuk payung di atasku. Payung yang indah berwarna merah, ungu, kuning. Hijau tetap yang terindah di mataku.
“Happy new year, Xue Yen!” Kubalas ucapan selamat temanku. Satu tanganku melingkar di bahu kirinya. Yang lain tak berkutik karena digenggamnya erat.  ini hanyalah salah satu usaha untuk mempertahankan tubuh dalam suhu normal.
Detik pertama di tahun 2009. Umea, Sweden pukul 00.00 bersuhu minus 10. Tidak terlalu dingin jika angin tidak ikut meramaikan suasana. Membuat kakiku terasa nyilu. Tanganku sedikit kebas setelah berada di luar selama satu jam lebih.
Pertunjukan tanpa kata di langit itu berlangsung sekitar 10 menit.
“YES”, Teriak bocah balita di sampingku. Matanya terus terarah ke atas, acuh meski beberapa pasang mata melirik ke arahnya.
Tepuk tangan bergemuruh beberapa kali. Terang kembang api berlatarkan gelapnya langit. Ternyata ‘kegelapan’ justru membuat cahaya terasa lebih ‘bersinar’. Kalaupun ‘hitam’ lebih mendominasi selalu akan ada warna.
Selalu ada alasan untuk bersyukur atas nikmat hari ini. Seperti salah satu ayat favoritku dalam AlQuran ,“Wa laa i Robbikuma Tukadziban”. Dan nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Kalimat ini beberapa kali disebut dalam surat ArRahman.
Ada saatnya kita tersesat supaya kita tahu apa yang dimaksud jalan yang benar. Ada saatnya kita sedih agar lebih mensyukuri saat bahagia. Tahun 2008 ini, aku dikhianati sahabat dalam urusan pekerjaan dan sekaligus patah hati. Itu sangat menyakitkan. Sedih tentu saja. Hilang arah dan tak tahu jalan tujuan bisa dimengerti. Tapi keadaan tidak akan berubah tanpa ada usaha.
Allah tidak akan merubah nasib kaumnya tanpa usaha. Apa dengan meratapi nasib kemudian aku bisa menghapus peristiwa pencolongan dataku? Menangis dan tidak fokus pada pekerjaan akan membuat ‘lelaki’ di belahan bumi yang lain itu berpaling padaku?
Jawabnya, “TIDAK.TIDAK.TIDAK”
Gelapnya langit membuat kembang api menjadi lebih indah. Hidupkupun akan lebih indah dengan banyaknya cobaan yang kuhadapi. Toh aku tidak pernah sendiri. Ada keluarga yang selalu bisa kuajak bicara. 3 ponakan jagoan yang meski jauh tapi selalu dekat di hati. Ada teman yang selalu menanti. Kurang apa lagi coba aku ini?
Sulit sekali berdamai dengan kegagalan. Aku semakin kagum pada para diplomat. Kagum pada bagaimana mereka berkompromi. Kudapati bersahabat dengan masa lalu terutama yang menyakitkan sangatlah sulit. Selalu ada alasan untuk menunda-nunda pekerjaan dulu sebelum bersusah payah lagi. Call me a Proscrastinator!!
Kulihat jam dinding di radhusset menunjukkan pukul 12.15. waktunya untuk pulang. Saatnya untuk berjuang lagi. Tahun sudah berganti maka semangatpun harus diperbaharui. Tahun ini, aku akan menyelesaikan sekolahku lagi untuk kesekian kali. Waktunya untuk bekerja dan mengabdi. Meski dunia sedang dilanda krisis, jangan menyerah. Rizki Allah ada dimanapun. Tahun untuk ‘menyingsingkan lengan’ kurasa.
Bekerja sebagai peneliti bukan ide yang buruk. Di Universitas atau NGO bukan masalah. Di luar negri lebih kuprioritaskan kurasa. Atau magang di majalah di luar negri? Mengasah bahasa inggris, kemampuan menulis sekaligus jurnalisme? Hmmm...masih tergoda. ;)
Bagaimana kalau kita merencanakan untuk membuat kenangan? Dengan berusaha memberikan yang terbaik pada orang-orang terkasih dan mensyukuri yang ada saat ini. Masa lalu memang selalu bisa dikenang. Tapi selalu ada ‘detik ini’ untuk membuat kenangan baru.

Friday, December 19, 2008

Berawal dari mimpi

16 Desember 2008, aku menerima email balasan dari dr. Rukmono Siswishanto SpOG(K), M.Kes. Beliau atasanku di Program Aceh tempat aku bekerja sebelum ke Swedia. Selama satu setengah tahun kami bersama menjalankan program hasil kerjasama World Vision Australia-FK UGM- RSUD CND, Meulaboh. Ayah keduaku, kurasa.
Sebenarnya aku menghubungi beliau karena mimpiku. ???Bingung ketika bangun tidur. mungkin juga ini peringatan untukku sholat shubuh. Maka kuseret kakiku untuk mengambil air wudhu. Sambil bertanya dalam hati,”Ono opo?”
Ini bukan pertama kali. Aku tahu mana mimpi yang berarti firasat dan mana yang sekedar bunga mimpi. Yakin kali ini pasti benar juga. Tapi kenapa? Ngopo? Why? varfor? Orang- orang selalu mengaitkan mimpi dengan alam bawah sadar. Percaya pada dalil itu tapi aku tidak pernah bicara pada siapapun ataupun tidak juga berpikir tentang beliau. Ataupun tentang ‘Natura’. None.
Mba Marie, seorang kawan di Aceh memberi kesempatan kepadaku untuk membuktikan kebenaran mimpiku. Nama lengkapnya adalah dr. Marie Caesarini, SpOg. Dia heran ketika kubilang,”Natura dah edisi kedua ya mbak?”
Kujelaskan tentang mimpiku. Aku melihat Pak Rukmono mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan beliau melihat majalah ‘Natura’, majalah yang baru dirintis. Secara implisit beliau memberitahuku bahwa ini majalah kedua. Selanjutnya ada diskusi tentang distribusi majalah ini. Ide baru yang muncul adalah bagaimana jika memberikan ‘suplemen’ atau bonus untuk menarik minat pembaca.
“Tapi itu dalam mimpi ya”, Katanya masih tak percaya.
AHA!! Mimpiku benar. Hari gini masih percaya mimpi? Menyesal harus kukatakan,”Yes, I do”.
Kembali ke emailku kepada Pak Rukmono yang berjudul majalah. Aku juga menceritakan tentang keraguan kelanjutan studiku. Masih menimbang-nimbang suatu tawaran terkait dengan satu masalah pribadiku. Akhirnya kudapatkan wejangan yg lama tidak kudapat dari beliau. Law of Attraction.
“Alam itu akan membantu kalau kita memang meniatkan”, Tegas Pak Rukmono.
Bagaimanapun hal itu mengingatkanku pada ‘the alchemist’, Paulo Coelho. Satu kalimat favoritku adalah “The universe conspires to help who want to pursue their destiny”.
Langkah selanjutnya adalah memasukkan agenda dalam alam bawah sadar kita. Sesuatu yang benar- benar diinginkan. Dengarkan kata hati dan perhatikan pertanda di sekitar kita. Kudapati begitu sulit untuk mendengarkan hati nurani. Apa mauku sebenarnya?
Aku hanya tahu satu doa yang masih selalu rutin kupanjatkan selama lebih dari 10 tahun.
“Allah, yang maha berilmu. Jika Engkau menghendaki aku menjadi orang berilmu maka pastilah kudapati diriku berada di antara orang-orang yang berilmu. Karena itu, kehendakilah aku menjadi orang yang berilmu”.
Hasilnya, meskipun dengan IQ yang terbatas. Usaha yang pas-pasan aku selalu ‘tersesat’ di jalan yang benar. Bagaimanapun aku meragukan jalanku selalu ada jalan untuk kembali ke ‘bangku sekolah’. Semoga aku tidak salah mengartikan tandaMu.

Tuesday, December 16, 2008

PEREMPUAN ITU

Tulisan Jati berjudul Lelaki Cina nan Tampan benar- benar mengusikku. Setidaknya membuatku menunda tidur meski jam sudah menunjukkan pukul 01.18 am.

Anganku melayang ke beberapa kejadian di masa yang belum lama berselang. Pertama, saat kursus narasi jurnalisme Juli- Agustus 2008. Ada mba Khanis dan mba Siti yang pasti sangat asyik untuk berdiskusi mengenai Gender. Kedua, tentang Rifka Annisa. Salah satu lembaga pendampingan wanita yang juga tempatku magang selama musim panas kemarin. Dan terakhir, Mengingatkanku pada Erik Svedman. Seorang kawan, LELAKI yang sangat perhatian dengan masalah ini. Ia berhasil membawa Leage Table bahkan berbagai macam analisis biaya dalam perspektif gender.

Teman saya yang terakhir ini membawa pemahaman baru. Ia sangat memperhatikan masalah ketimpangan dan kesenjangan. Sesuatu yang terjadi karena seseorang terlahir sebagai laki-laki dan yang lain sebagai perempuan. Dan ia membawa kita ke dalam perspektif baru mengenai gender di dataran ekonomi kesehatan.

Lalu makhluk seperti apakah perempuan itu?

Seseorang yg berambut panjang, menggunakan gincu dan berbagai macam make up? Kalau dia muslim maka ia akan menggunakan jilbab. Selalu merengek minta bantuan jika ada masalah. Tidak bisa menyimpan rahasia. Pasif dan lemah. Selalu berada didalam rumah menanti sang suami yang lelah mencari nafkah?

Lalu bolehkah aku mengaku perempuan meski rambutku pendek dan tidak pernah berdandan? Perempuankah aku jika aku tegar menghadapi hidup dan bekerja seharian untuk mencari nafkah juga? Masihkah aku dihargai dalam lingkungan sosialku hanya karena aku mengatakan bahwa seorang pria ganteng. Padahal memang itulah kenyataannya.

Tanpa bermaksud menggugat tradisi, aku hanya mempertanyakan,”Apa salahnya?”

Jati, lepas dari perasaan ‘itik buruk rupanya’ adalah salah satu contoh sederhana dari bagaimana kita terikat pada norma dan budaya. Aku bangga pada budayaku. Tapi tidak ada yang statis di dunia saat ini. Sudah saatnya stereotype negatif tentang perempuan dihapuskan minimal dikurangi.

Dimulai dari hal-hal sederhana sehari-hari. Dosakah seorang perempuan jika ia mengatakan,”Aku menyimpan perasaan padamu”?

Apa dengan mengatakan hal itu maka harkatmu sebagai perempuan terendahkan? Padahal rasa itu nyata adanya. Padahal hari-hari terasa lama berlalu karena setiap detik selalu terbayang wajahnya. Suatu rasa yang jika tidak diungkapkan akan mengganggu stabilitas aktivitas kita.

Pernah aku memilih untuk menjadi ‘perempuan baik’. Memilih untuk diam, meski terkadang tidak tahan untuk mengajak ngobrol meski hanya lwt y!m. Dan itu sungguh mengganggu hari-hariku. Beruntung jadwal kuliah tahun lalu tidak memberi banyak ruang untuk melamun. Tapi satu tahun waktu yang cukup lama hingga kuputuskan menuntaskan penasaranku.

Dimulai dengan mengunjungi kota tempatnya belajar. Pesawat selama satu jam lima menit, plus tiga jam perjalanan dengan kereta. Hanya untuk menikmati saat-saat terakhir. Menulis travelogue sepanjang 10 halaman,sekitar 4000 kata. Dilanjutkan perjalanan kereta lain selama 10 jam sekedar menikmati secangkir kopi bersama. Secangkir kopi yang sangat mahal harganya. Bukan hanya karena kami membelinya dari sebuah kafe yang lumayan berkelas. Tapi karena kami tidak pernah punya waktu. Swedia terlalu jauh, dan satu tahun bukan waktu yang pendek.

Tapi apakah harga diriku sebagai perempuan menjadi hilang hanya karena mengajaknya ke kafe berdua? Hanya karena mengatakan,”Aku pernah ‘menunggumu’.” Jujur aku merasa lebih berharga setelah membuat pengakuan itu. Aku tidak peduli apapun responnya tapi nothing to lose. Aku memang menyukainya dan tidak akan memaksakan perasaanku.

Masihkah aku seorang perempuan yang baik di mata kalian?