
Membaca lagi daftar calon presiden, capres, pada hari minggu (24 Mei 2009), saya terlintas bahasan penyebaran pendidikan di Indonesia. Tulisan ini hanya sebuah teropong dari masalah ini. Layaknya teropong, ia hanya digunakan untuk melihat objek yang kita minati dari jauh. Bahasan dalam artikel inipun masih terlalu dangkal. Tapi seandainya mungkin, saya ingin mengembangkan menjadi sebuah artikel yang membahas masalah penyebaran pendidikan di Indonesia secara menyeluruh.
Beberapa aktor lama, terutama orde baru, masih muncul di awal pencalonan presiden seperti Akbar Tanjung, Prabowo (menantu mantan presiden Soeharto)(Lihat Table 1). Megawati, putri mantan presiden pertama, juga masih muncul. Dari sisi gender, minimal ada satu sosok wanita tampil di elit politik Indonesia.
Kolom kedua menginformasikan tahun kelahiran dan umur para kandidat. Tahun 40-an mendominasi tahun kelahiran yang berarti usia 50 sampai 60 tahun. Usia termuda adalah Hidayat Nur Wahid (49 tahun). Rata-rata usia capres 2009 kali ini adalah 59.62 tahun.
Selanjutnya, lima dari 13 capres (38.46%) berasal dari luar jawa (kolom ketiga). Beliau adalah Akbar Tanjung, Yusril Ihza Mahendra, Rizal Ramli, Din Syamsudin dan Yusuf Kalla. Kondisi ini menunjukkan keterwakilan saudara- saudara kita di luar jawa. Setidaknya ada ruang untuk saudara kita untuk berpartisipasi aktif. Isu kesetaraan hak menjadi isu utama di sini. Saya yakin bahwa pernyataan saya di atas masih terlalu dangkal. Setidaknya ada proses menuju ke arah yang lebih baik. Proses itu yang saya utamakan.
Kolom keempat adalah bahasan Utama kita. Secara umum para kandidat memiliki latar belakang pendidikan SMU plus. Bahkan mayoritas lulus tingkat doktoral, 61.54%. Kali ini saya tidak berani mengatakan bahwa hal ini mencerminkan kenyataan. Apalagi dengan meningkatnya biaya kuliah. Minimal untuk menempuh pendidikan lanjut menjadi lebih sulit untuk kondisi saat ini. Hal lain yang saya lihat adalah, kecenderungan kaum muda untuk lebih religius tanpa menjadi ekstrimis. Dua capres termuda (Hidayat Nur Wahid dan Din Syamsudin) adalah lulusan universitas berbasis pendidikan agama. Setidaknya universitas ini juga bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas untuk menjawab kebutuhan bangsa. Sayangnya, satu-satunya capres wanita kita adalah lulusan SMU (karena tidak lulus pendidikan S1). Apakah ini menunjukkan pendidikan kaum wanita secara umum memang lebih rendah dibanding pria?
