Saturday, April 07, 2012

Diobral (Nyawa Pekerja)


Lebih dari 240 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia. Cukup banyak sehingga harga setiap nyawanya mungkin menjadi kurang diperhatikan. Satu tahun lalu saya memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan ke NTT. Sebuah daerah eksotik dengan alam yang masih asri hijau. Belum terlalu banyak dieksplorasi sehingga bahkan jalan-jalannya pun masih sangat berkelok dan berlubang di sana-sini.
Foto di dalam artikel ini sedianya akan digunakan sebagai kantor pusat pembangkit listrik yang baru. Beberapa pekerja sedang sibuk menyelesaikan proyek pembangunan. Jika Anda cukup jeli maka akan terlihat dua orang pekerja yang tidak menggunakan pengaman bahkan untuk sekedar alas kaki. Pekerja dengan kaus garis oranye dan hitam bertopi itu berada di lantai empat dari sebuah gedung tanpa pengaman apapun.
Saya kurang paham mengenai alat-alat pengaman apa saja yang seharusnya digunakan tapi jika helm dan alas kaki saja tidak digunakan maka cukup jelas bahwa pekerja itu tidak menggunakan pengaman yang semestinya ketika bekerja. Pekerja yang lain berpindah posisi dengan hanya berpegang pada rusuk besi di tepi gedung. Jika tangannya selip dan jatuh maka bisa dipastikan ia akan terjun bebas ke bawah.
Di negara ini, jika Anda hanya menjadi orang kebanyakan Anda tidak akan layak dihargai bahkan nyawa Anda sekalipun. Di luar dari konteks keselamatan pekerja, saya teringat pernyataan seorang pejabat negara mengenai banyaknya korban ledakan LPG.

Bersama Kawan


Agenda hari ini adalah memilah-milah foto. Melihat-lihat lagi foto apa saja yang kubuat setahun yang lalu. Tidak terasa sudah satu tahun lebih foto ini dibuat.
Maret 2011 friends gathering ini dibuat. Aku. Tri Sasi Lestari.Marie Caesarini. Menunya sederhana tapi macam-macam mulai dari Tom Yam, oseng kangkung, buah Apel (menyusul semangka sepertinya), puding dan pringles.
Mba Sasi masih seperti biasa masih suka putar-putar untuk menemukan rumahku meski sudah beberapa kali datang. Sewaktu datang langsung dipersilakan bergabung karena makanan sudah matang.
“Wah bumbunya apa neh Tom Yamnya? Enak banget. Beritahu donk resepnya?”
Aku dan Mba Marie hanya tersenyum- senyum lalu singkat kujawab.
“Bumbu warisan nenek moyang”.
“Wah nanti kapan-kapan ajari aku ya”, mungkin seperti itu tanggapan mba Sasi atau mungkin ini hayalanku saja.
Waktu berjalan lalu kita putuskan untuk pindah ruangan. Kami melewati meja makan dan rak tempat menyimpan bumbu. Sebelumnya, kami makan lesehan di garasi yang sudah disulap menjadi tempat makan. Dalam perjalanan mba Sasi sempat menemukan ‘bumbu warisan nenek moyang’. Baru saja kami duduk tidak sabar beliau komentar.
“Owh ternyata bumbu warisan nenek moyangnya itu ya”.
“Hahaha,” Aku dan mba Marie tertawa, “Iya, nenek moyangnya orang Thailand”.
Begitulah...kami tertawa karena akhirnya semuanya tahu rahasia lezatny tom yam hari itu. ‘Bumbu warisan nenek moyang’ itu sebenarnya hanyalah bumbu instan ‘Tom Yam Paste’ yang memang sudha diuji sebelumnya lumayan sedap. Tinggal masukkan bahan-bahan pelengkap spt udang, baso ikan, jamur, tahu sutra atau bahan lain sesuai selera. JADI DEH! ;)
Sepertinya sulit untuk mewujudkan waktu untuk membuat sekuel dari acara ini. Karena saat ini keduany sedang menimba ilmu di dua benua yang berbeda. Well, skype maybe could help us to make conference kitchen chef hehehe.

Sunday, March 18, 2012

Tujuh Alasan Yoga sebagai Olah Raga Favorit


Sepuluh tahun yang lalu mungkin masih sulit mencari studio Yoga di sekitar Anda. Ia masih dianggap olah raga eksklusif untuk orang-orang tertentu. Harganya mahal? Tunggu dulu! Anda masih bisa mendapatkan harga-harga yang murah di studio-studio mini yang semakin menjamur akhir-akhir ini. Kepopulerannya karena (setidaknya) tujuh hal di bawah ini.

1. Hemat Tempat
Tidak perlu mencari tanah lapang atau kolam. Olah raga ini dapat dilakukan dimanapun, setidaknya di tempat yang cukup untuk matras Yoga Anda. Ukuran matras yoga hanya sedikit lebih panjang dari sajadah yang biasa Anda gunakan untuk sholat. Anda mungkin akan membutuhkan dinding untuk pose-pose (asana) tertentu. Selebihnya, Anda bisa memilih apakah akan melakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan, di taman, tepi pantai atau pegunungan.

2. Seimbang
Lari mungkin masih merupakan olah raga termurah tapi hanya untuk melatih otot kaki dan secara tiba-tiba memaksa jantung bekerja lebih cepat. Olah raga lain seperti tenis atau bulutangkis didominasi oleh gerakan satu sisi tubuh yaitu kanan (atau kiri jika Anda kidal). Hal ini tidak sesuai dengan prinsip keseimbangan dalam olah raga yoga. Setiap pose yoga selalu dilakukan secara seimbang kanan dan kiri, forward dan backward (ke depan dan kebelakang), berdiri dan tiduran. Hal ini berguna untuk menjaga fungsi optimal tubuh.

3. Melatih seluruh bagian tubuh, tanpa pengecualian
Satu sesi yoga mungkin dapat dipilih berdasar anatomi tubuh bagian mana yang ingin Anda latih, perutkah? Lengan ataskah? Tulang belakangkah? Anda juga bisa menentukan pose berdasar keluhan Anda misalkan stres, insomnia, diabetes, dll. Pose-pose dalam yoga dipercaya dapat membantu mengurangi/menyembuhkan keluhan penyakit-penyakit tertentu.
Banyak yang mengira bahwa yoga hanya untuk melatih fleksibilitas. Hal itu tidak sepenuhnya salah karena memang banyak gerakan yoga yang membutuhkan kelenturan tubuh. Namun salah satu keunggulan yoga adalah ia tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Kalau dalam istilah sholat, ia dilakukan dengan tuma’ninah (berhenti sejenak). Salah satu contohnya adalah jika Anda menahan setengah posisi pose plank / push up maka juga dapat melatih ketahanan. Pose berdiri di atas satu kaki jika ditahan beberapa waktu dapat juga berfungsi sebagai latihan keseimbangan. Anda tidak perlu berganti alat atau beralih jenis olah raga untuk merangkum empat jenis olah raga yaitu endurance/ketahanan, strength/kekuatan, flexibility/fleksibilitas, dan balance/keseimbangan. Hebat kan?

4. Melatih Anda mengenal tubuh Anda
Ini adalah satu-satunya olah raga yang menyarankan pada Anda untuk mengenal dan memahami tubuh Anda sendiri. Tidak setiap gerakan yoga dapat Anda lakukan tapi setidaknya secara bertahap dapat dilatih. Jika kaki Anda terasa sakit/kaku untuk dapat menirukan dengan sempurna, Anda berhak untuk melakukan sebatas Anda mampu. Setelah beberapa kali latihan mungkin gerakan Anda akan semakin sempurna. Dalam kehidupan nyata, olah raga ini menginspirasi Anda untuk mendengarkan tubuh Anda sendiri. Mata yang mengantuk menandakan tubuh Anda butuh tidur dan bukannya dihujani kafein sehingga masih tetap terjaga. Makanan lezat tersedia melimpah di meja makan tidak harus dimakan jika perut masih cukup kenyang. Tubuh Anda adalah teman setia Anda, ia berhak untuk didengar.

5. No Competition
Hampir semua jenis olah raga mengandung unsur kompetisi mulai dari sepak bola, lari, lempar lembing, softball.Sedemikian pentingkah kompetisi? Olah raga ini adalah mengenai badan Anda. Yoga menganggap bahwa setiap orang adalah unik termasuk dengan proses yang harus dilaluinya baik itu selama sesi kelas yoga maupun kehidupan nyata. Ini bukan soal seberapa cepat Anda meraih sesuatu atau seberapa banyak peningkatan kemampuan Anda dibanding orang lain. Ini adalah soal apakah Anda menyadari apa saja yang Anda lakukan saat ini? Anda berbicara mengenai badan Anda sendiri dan ucapan terima kasih karena ia telah membantu Anda beraktivitas sepanjang waktu.

6. Both energizer and relaxation
Olah raga lain mungkin hanya berfungsi sebagai salah energizer atau relaxation saja. Hampir sama seperti poin nomer tiga. Anda dapat memilih pose-pose tertentu sesuai dengan mood atau kondisi tubuh Anda saat itu. jika Anda sedang stres dan sangat tegang maka posisi-posisi tidur (dengan segala variasinya) dapat menjadi prioritas Anda. Sebaliknya Jika Anda merasa lemas, tidak bersemangat maka pose-pose berdiri akan membantu Anda lebih bersemangat.

7. Murah
Dengan segala fungsi dan keunggulan seperti yang disebut dalam poin-poin sebelumnya, olah raga ini sangat murah. Harganya mungkin bervariasi dari satu studio ke studio lain. Setidanya sediakan 25 ribu – 55 ribu untuk satu kali sesi kelas yoga berdurasi 60-90 menit. Jika Anda tertarik melakukan sendiri di rumah, membeli matras yoga tidak ada salahnya. Harga termurah yang bisa Anda dapatan sekitar 160 ribu sampai dengan 600 ribu. CD Yoga juga banyak tersedia akhir-akhir ini. Pemula (baru pertama kali memulai) dan kondisi khusus (hamil, kelainan tulang belakang) disarankan mengikuti kelas Yoga dengan guru tersertifikasi demi keamanan Anda :d

SELAMAT BERYOGA!

Monday, November 21, 2011

Paternity Leave: A forgotten right of being a father in Indonesia

Many times i asked my Indonesian friends (men), “Do you mind to leave your job temporarily just to take care of your daughter or son?”

The major answers you could expect are, “What about my job? How can i feed my family?”
Few of them will undoubtly said,” I won’t hesitate. I simply work from home”, maybe because they are freelancers.

Many of us (mostly men) have this question in their mind, “We have mother’s day but we never have a father’s day here in Indonesia?” (now we have, do you really want this kind of day?)

Feminists might say that women just have one special day out of 365 days in a year. The rest are mostly devoted to the men since the world system in general is following paternalistic pattern. Because of that why there is still such question appears?

I want to put aside the job and salary issues in order to answer aforementioned question. Moreover, let’s stay focus on how we describe the meaning of being a father. Being a father is not merely about earning money, isn’t it? We are human beings. Father, mother or children are human beings. I guess i do not have to remind you that as a human we have several aspects of life: physical, emotional, psychological, social and spiritual. If so, why should we bother only one aspect “economy” to be called as a father?

I hope you (men) don’t find this article as an offensive one. But please, just grasp the idea behind. Just focus to the fact of being a human. As a father, do you think that you spend less time than your wife or even with your babysitter with your children? When did your last time hug your children? Listen to their stories? Read fairy tales for them? Feed them? Change their diapers?

Wednesday, October 26, 2011

THE DOTS


I got several private messages, after posting a status of ‘You are right Mr Jobs, "You can't connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards." that's why life can be so unpredictable and has no pattern at the beginning but not later on :)’
“What did you mean in your status, Nurul?”
I found it quite difficult to answer in a sms. It won’t give me enough space to tell the whole ideas within. Moreover, it takes quite long time for me to realize the relation of Jobs’ quote with my experience.
So let me start with the children’s game of connecting dots. When i was child, i had a book of this game. Each page had a certain disguised pattern. The pattern was revealed after you see the whole dots in it, thoroughly. The picture then became clearer as you trying to connect each dots, carefully. AHA! You see a clear picture of a star, lets say.
So how that story relate to what we talk about at the beginning?
It is an abstract idea. We shall start, again, from the dots. Let’s make an agreement that a dot represents certain point of our life. It could be time when we decide to enter a school, to join a particular work, to travel, to break up with our girl/oy friend. Furthermore, it could be something that has nothing to do with your effort. The time where you significant others die, disaster, get gift, win a lottery or many others. Simply to say that the life of ours consist of many dots.